Catatan Patah Hati.

Setiap emosi butuh kanalisasi. Tak terkecuali hari-hari ini; dua hari setelah saya memutus koneksi dalam segala bentuk dengan dua orang yang (setengah mati) saya sayangi. Meski rasa itu tak sekuat dahulu, lewat merekalah saat ini saya jauh lebih menyadari: bahwa hubungan, apapun wujudnya, adalah tentang mengelola ekspektasi secara bersama-sama. Maka perlu kesadaran dan kedewasaan untuk terus menerus membuka diri, termasuk bersiap sakit hati, dengan membuat ruang-ruang dialog sesering mungkin. Sayangnya, tidak semua orang memiliki waktu dan kesiapan yang sama. Tak jarang beberapa dari kita memilih untuk menunda, meniadakan, bahkan menyembunyikan suatu asumsi hanya karena membicarakan berarti menutup segala kemungkinan. Saya tidak begitu. Tidak ada yang bisa menjanjikan hari esok, dan setiap hari manusia pasti berubah, lewat 2 fakta ini maka mengapa kita masih saja terus-terusan bergantung pada ‘lihat saja nanti’?

Duduk. Utarakan. Jelaskan. Dengarkan. Pahami. Hayati. Lalu bersama mencari solusi..

Sebut saja mereka Biru dan Merah. Keduanya saya kenal saat kami sama-sama bersekolah di Bandung. Secara garis besar, keduanya memiliki kesamaan karakter: kritis, berorientasi pada detail, dan keras kepala. Jika ada perbedaan yang mencolok itu adalah Biru yang sangatlah sensitif dan submisif, sementara Merah yang cenderung agresif. Di hadapan Biru, yang baru saya sadari ‘keberadaannya’ tahun 2014 —  padahal kenal sudah sejak 2010, red — saya merasa transparan, merasa ‘telanjang’. Ia dengan segala ketelatenannya (dan kepintarannya!) dapat membaca dan memahami segala dinamika pikiran serta perilaku saya dengan tepat. Terkadang saya menolak, tentu; merasa tidak setuju dan meyakini dia hanya sok tahu. Tetapi cepat atau lambat apa yang dia pikirkan tersebut, kerap kali, nyata terjadi. Dan jika ada hal yang saya cemburui dari Biru adalah karena isi otak dan wawasannya terhadap hampir segala lini keilmuan yang luas hampir tak berbatas. Biru adalah juga sosok yang dengan rajin mengirimi saya referensi, mengingatkan saya untuk daftar residensi, atau sekadar mengizinkan saya berbicara tentang apapun. Ia selalu ingin saya maju dan berkembang. Di saat yang sama Biru membuat saya justru tidak ingin kemana-mana, tetapi menemaninya. Saya tahu, Biru tahu. Hal ini bukanlah situasi dan kondisi yang ideal. Aspirasi kami barangkali tak lagi persis sama seperti saat kami banyak melakukan produksi teater dulu. Saya terus berlari — ditemani sosok lain yang datang dan sudi untuk ikut berlari, sementara Biru memilih terus berjalan dengan ritmenya sendiri. Hingga suatu hari apa yang dilantunkan Simon and Garfunkel dalam Sounds of Silence, bahwa.. people talking without speaking, people hearing without listening benar terjadi di antara kami. Saya dan Biru tidak lagi membuka ruang dialog satu sama lain. Saya memilih menutup mata, hati, telinga, dan terus-terusan percaya bahwa semua baik-baik saja; bahwa saya dan biru akan selalu tetap seperti pada awal mula. Bisa bercerita apa saja. Dan berkeluh kesah kapan saja. Denial, mereka menyebutnya. Perlu beberapa tahun lamanya untuk saya menyadari, bahwa saya dan Biru adalah pelanggan (atau korban?) dari paham bahwa persahabatan tanpa melibatkan perasaan adalah kebohongan abadi yang sampai kapanpun tetap laris peminatnya.

Tak berbeda jauh dengan Merah. “Let’s keep this closeness, but let’s not fall in love to each other, promise?” demikian Merah meminta saya di suatu siang yang entah kapan. Saya jelas tidak ingat detailnya—  percakapan ini kalau tidak salah terjadi tahun 2011, red, yang saya kenang hanyalah rasanya. Rasa dimana saya berusaha menghentikan perasaan ‘suka dan kagum’ yang mulai tumbuh perlahan. Beberapa bulan berinteraksi dengan Merah membuat hidup saya kembali bergairah. Sosoknya yang dominan dan tegas, membuat saya gelagapan menghadapinya. Tak banyak orang tahu, sekalipun saya adalah orang yang vokal dan hobi memimpin, di luar urusan pekerjaan dan organisasi, saya sangatlah ingin dipimpin. Disetirin, kalo bahasa sehari-harinya. Bersama Merah saya mendapatkan hal itu. Di saat yang sama Merah adalah sosok yang apresiatif terhadap segala hal impulsif yang saya ciptakan. Hidup terasa seperti taman bermain. Interaksi kami kemudian semakin intens ketika masa-masa sekolah tersebut kami isi dengan saling menguntungkan satu sama lain; Merah membantu saya di kelas konstruksi bangunan, saya membantu Merah di mata kuliah sastra pilihannya. Hal lain yang kemudian menguatkan koneksi kami adalah: teater dan Perancis. Rasa yang tumbuh tadi itu akhirnya terhenti, ketika kemudian sosok lain muncul dalam hidup saya. Ajakan Merah untuk tidak saling jatuh cinta, membuat saya merasa aman untuk memilih berjalan dengan sosok lain tersebut sambil tetap menjalin persahabatan dengannya. Lagi, hidup bercanda untuk kesekian kali. Di saat saya sudah memutuskan berjalan bersama orang lain, Merah marah. Dalam asumsi saya, Merah merasa saya mempermainkan perasaannya (atau lebih kompleks dari ini? Idk, really). Sampai disini saya tidak lagi ingin berkata apa-apa selain tertawa, hahaha fuck timing. But yeah long story short, cerita saya dan Merah terhenti begitu saja. Tak ada hal lain yang bisa kami lakukan selain memberi ruang untuk jarak dan waktu memainkan peran mereka untuk kami berdua.

Tahun 2020, pandemi terjadi. Waktu diam dan reflektif ini membawa ingatan saya jauhhhh melayang ke keberadaan mereka yang sudah bertahun-tahun tak tersentuh. Saya pikir, baik Biru dan Merah, telah memaafkan dirinya dan juga saya atas apa yang telah terjadi di masa lalu. Saya pikir, baik Biru dan Merah, akan kembali memberikan kesempatan untuk ruang dialog kembali terbuka; kemudian mengizinkan diri kita masing-masing membuat kesepakatan yang bisa dipahami satu sama lain. Saya pikir, baik Biru dan Merah, sudah ‘selesai’ dengan segala emosinya, kemudian bersama kita dapat menertawakan kebodohan-kebodohan yang terjadi di masa lalu. Saya pikir, baik Merah dan saya, juga Biru dan saya, dapat kembali menjalin pertemanan yang suportif dan asertif. Saya pikir.

Saya pikir, untuk kali ini, saya harus berhenti berpikir. Tak ada cara lain selain saya harus menajamkan indera lain yang saya miliki. Merasakan lebih dalam lagi. Barangkali benar adanya, tidak selayaknya saya terus-terusan menggampangkan perasaan seseorang. Tak semestinya saya menganggap mereka masih berada di tempat yang sama (sahabat, red) tatkala saya tahu hidup terus berputar dan berjalan. Tak sepatutnya saya terus-terusan ngotot hadir di tengah-tengah mereka, yang barangkali masih menganggap saya ‘ancaman’, yang kehadirannya hanya akan menambah beban atau membuka luka. Ga adil, memang. Tetapi perlahan saya mulai membuka mata, hati, dan telinga saya untuk merelakan; melepaskan mereka yang tak lagi ingin ada di cerita perjalanan saya. Bukan tanpa usaha, hanya saja Biru dan Merah sudah memberikan jawaban yang cukup jelas kepada saya untuk berhenti mencoba. Iya, saya berhenti. Sudah tak ada tenaga lagi untuk saya menyakiti diri sendiri (dan orang lain, tentu). Maka, jalan terbaik adalah untuk tidak menoleh ke belakang lagi. Dan meyakini bahwa siapapun yang bersama saya saat ini adalah sahabat terbaik—  yang sekalipun suatu hari harus terhenti adalah juga untuk alasan yang baik. Amin.

Untuk Biru dan Merah, maaf dan terima kasih. Untuk segala kebodohan dan kepintaran yang pernah kita bagi bersama, semoga kelak keduanya dapat menjadi pembelajaran yang bermanfaat buat kita dalam mengarungi kehidupan yang ganas ini. Segala trauma dan ketakutan yang muncul akibat apa-apa yang pernah kita alami, semoga tak lebih besar dari rasa syukur yang kita miliki hari ini. Selamat jalan, selamat menikmati pemandangan!

Semesta memberkati.

Dengan penuh kasih,

K.

Karma Tak Pernah Ingkar Janji.


Ibarat radio, volume suara dunia saat ini terlampau memekkakan telinga. Kalau saja benar ada tombol itu, ingin rasanya saya putar ke arah kiri hingga habis lalu sunyi. Tak perlu bantuan siapapun atau teknologi apapun. Sebagai kaum rebahan dan generasi digital, saya bahkan rela berjalan menuju ke arah radio, sejauh apapun itu, untuk segera saya matikan sementara waktu. Kita sedang terlalu lelah bukan? Belum juga habis permasalahan krisis kesehatan yang tak kunjung kita lihat titik akhirnya, kemudian kita harus dipaparkan lagi dengan keadaan kemanusiaan yang semakin bar-bar, dan politik yang semakin menyesatkan.

Kita butuh oase di tengah gersang. Satu diantaranya adalah dengan terus berbagi kebaikan dan kepedulian sekecil apapun itu. Terdengar klise dan ‘yelah… gausah sok zen, namaste, pencitraan gitu, deh, lo” memang. Tapi percayalah, kebaikan yang tak tertangkap kamera dan muncul di stories manapun, kebaikan yang membuatmu dan orang lain tersenyum hingga lubuk hati, kebaikan yang membuatmu merasa semua akan baik-baik saja. Kebaikan yang, barangkali tak satu orang pun tahu, tetapi hanya tentang dua, tiga, atau lebih yang menjadi saksi melihat rasa cinta dan kasih itu benar-benar dibagi.

Seperti ketika saya memutuskan belanja ke Chinatown hari ini, dan bertemu dua pegawai asal Timor Leste yang bisa berbahasa Indonesia. Saya berkawan dengan mereka semasa pandemi ini, karena untuk bisa berkegiatan di luar rumah saya hanya bisa pergi ke taman atau ke toko-toko makanan saja. Kami biasa bertegur sapa dan berbincang hal-hal sederhana seperti, “Darimana asalnya” atau “sudah berapa lama tinggal di sini” dan lain sebagainya. Mengenal mereka memudahkan saya dalam beberapa hal, salah satunya adalah bahwa setiap kali saya ke sana dan antrian sedang panjang, mereka pasti membantu saya untuk bisa masuk dengan segera. Mereka akan bilang ke sekuriti bahwa saya adalah saudara jauhnya. Agak curang, memang. Tapi mereka tak sampai hati melihat saya antri bermenit-menit di tengah teriknya musim panas di kota London ini. “Kalau lokal sudah biasa, kamu kan pendatang.. butuh adaptasi pelan-pelan,” ujar mereka setiap kali saya berusaha bilang tak apa kalau harus antri.

Siang tadi saat saya membeli 6 sayap ayam potong mereka melayani saya layaknya seorang penjual kepada pembeli. Kami bertegur sapa dan berbincang ala kadar seperti biasa. Setelah mendapatkan apa yang saya butuhkan, saya pamit undur diri untuk lanjut berkeliling toko memenuhi daftar kebutuhan belanjaan yang telah saya tuliskan di rumah. Sekitar 15 menit kemudian saya bergegas menuju ke arah kasir untuk membayar. Belum ada 2 menit menganter, seorang kawan saya asal Timor Leste, dengan seragam butcher-nya, datang menghampiri saya dan bilang, “Ah ketemu juga! Saya ambil lagi ayamnya, saya ganti yang baru saja tiba.. lebih fresh,” ujarnya. Saya bingung. Jarak antara tempat daging dan kasir bisa dibilang tidak dekat, dan dari sekian banyak orang yang beli ayam Ia tak juga secara telaten melakukan hal yang sama seperti apa yang ia lakukan terhadap saya. Bukan ge-er, aselik. Saya cuma merasa tindakannya sungguhlah mulia dan penuh perhatian. Dan benar saja ketika saya sampai di tempat daging tersebut, saya menemukan box berisi daging-daging yang baru saja diturunkan dari mobil pengiriman. Warna merahnya daging terlihat lebih merona dibanding ayam yang sebelumnya; baunya pun jauh lebih ‘tawar’ dan tidak asam.

Sebelum Ia resmi mengganti ayam-ayam saya, Ia sempat berdialog dengan petugas pemasok daging dihadapannya. Saya cuma melihat dari jarak 3 meter, dan menyadari petugas itu melihat ke arah saya dan tersenyum. Ia berkata, “Just have this new one.. the quality is much better, wait for a bit ya.” Saya mengangguk dan hanya mengucap, “Oh ok, thanks..” tak lama kawan saya memberikan plastik dan isi ayam yang baru. Saya mengucap terima kasih beberapa kali. Ia menjawab sama-sama juga dengan jumlah yang sepadan.

Setelah kejadian itu, hati dan diri saya dilingkupi rasa hangat yang ‘entah layak disebut apa. Action speaks louder than words. Bahwa ada seseorang yang ingat padamu, dan berusaha memberikan yang terbaik untukmu, adalah hal yang sungguh membuat siapa saja akan merasa dicintai dan dimengerti. Lupakan dulu segala asumsi-asumsi lain yang mungkin hadir menanggapi kejadian ini. Dibenak saya, hal baik selalu mendatangkan hal baik lainnya. Sampai disini saya sadar saya ketagihan. Saya yakin hal baik yang menimpa saya barusan tidak terjadi tiba-tiba. Semesta tidak buta untuk terus membuat siklus tuai-tanam pada seluruh manusia yang ada di dunia. Mungkin saya pernah, sedang, atau akan melakukan sesuatu yang barangkali baik untuk sesama, yang tidak saya sadari, tetapi kemudian semesta ikut mengamini. Maka, apa yang saya alami hari ini adalah sungguh sebuah bukti, bahwa karma tak pernah ingkar janji.

SAUDADE #1

“Dasar bodoh,” umpatmu sambil tetawa. Aku masih saja keras kepala berkata bahwa kosa kata itu benar adanya. Wetty — berasal dari kata wet, yang artinya basah, diimbuhi dengan -ty sebagai sesuatu yang terlampau basah. Sebenarnya kata itu tidak terlalu mengada-ngada amat. Ia muncul setelah isi kepalaku berkutat dengan kata sunny, fluffy, naughty, dan apapun yang membuatku kagum akan Bahasa Inggris yang dengan mudahnya menggambarkan sesuatu yang ‘luar biasa sangat’ dengan dua huruf saja di akhirnya.

“Serius deh! gausah maksa!” ujarmu lagi. Entah gemas, entah kesal. Apapun itu tak menghentikan lari-lari kecil kita yang berupaya mencari tempat berteduh. Saat itu hari Minggu, saya dan kamu baru saja keluar dari Westminster Cathedral usai menonton recital piano rutin secara cuma-cuma. Di tengah dingin dan air yang terus turun tanpa permisi, saya dan kamu sempat mengucap kata sepakat; bahwa apapun bentuknya, rumah ibadah selalu sama. Segala puji dan puja pada intinya adalah untuk berbagi cinta. Menebar kasih.

“Eh bentar, cinta yang mana dulu, nih? Paham kita ‘kan bisa beda.” Tanyaku sambil sesekali berusaha mengatur napas ditengah upaya mencari toko atau café terdekat. Langkahmu terhenti. Oh, please, please, semoga karena Pret A Manger, pikirku. Ternyata bukan. Kamu menghadap kearahku. Kulihat beberapa tetes hujan dari ujung rambut mengalir cukup cepat kearah coat cokelat tuamu. Mau tidak mau, saya ikut berhenti.

Seriously? It is almost the end of 2019, and you’re still busy defining — or even differentiating love?” tanyamu. Saya melengos pergi untuk kembali berlari. “Dude, you don’t have to stop running just to ask that selfish-unnecessary kind of question.” Balasku sambil menoleh sesekali melihat kamu yang juga kembali ikut berlari. Syukurlah, ujarku dalam hati. Musim dingin dan flu serta masuk angin bukanlah hal yang perlu dimiliki oleh seorang perantau macam kita berdua.

Dari kejauhan saya melihat café mungil yang nampak sepi dan hangat. Sudah terlampau dingin untuk saya membuka mulut dan berkata sesuatu. Saya menoleh, melihat matamu sekelibat, lalu mengarahkan pandangan ke tangan kanan saya yang menunjuk café bernuansa putih minimalis itu. Cepat tanggap, kamu mengangguk tanda setuju. Beberapa  menit setelahnya, saya sudah berada di depan kasir dan dengan mantap berkata, “Satu Americano dan satu soy caffe latte.”

Saya dan kamu duduk bersebelahan. Kita sama-sama sibuk menghirup aroma kopi yang sungguh menenangkan dan menghangatkan ini. Di luar rintik hujan turun semakin deras, kita menyaksikannya lewat kaca jendela yang dihiasi tumbuhan gantung disekitarnya.

“Tau darimana saya mau minum Americano?” tanyamu tiba-tiba membuyarkan suasana. Saya menoleh pelan. Hmm. “Dalam sehari setidaknya satu kali kamu butuh minum kopi. Setahu saya, hari ini kamu telat bangun dan langsung buru-buru menemui saya di Westminster. Boro-boro bikin kopi, sikat gigi aja ga sempat kayaknya haha.. Belum lagi kamu berencana menyelesaikan essay yang njelimet itu malam ini, karena katamu deadinenya besok pagi.. yaaa mana tahu kopi ini bisa bantu bikin kepala kamu ga pengen langsung rebahan pas nyampe rumah.” Kamu menoleh tepat disaat saya berhenti berbicara. “Kenapa? Sotoy banget, ya, saya?”

Kamu menggeleng lembut seraya kembali mengarahkan pandangan ke jendela. “Cinta dan paham ga melulu harus didiskusikan, apalagi diperdebatkan. Biar saja ia mengalir,” ujarmu. Saya menatapnya, sekalipun ia tak menatap saya balik. “Al-Kafirun ayat 6. Lakum Dinukum Waliyadin.. bagiku agamaku, bagimu agamamu. Cinta juga gitu. Ga bisa dipukul rata. Harus ada kesepakatan biar bisa sama-sama saling jaga dan menghargai,” balasku.

Kali ini kamu menoleh dan menatap saya dalam-dalam.

“Dasar bodoh,” ucapmu untuk kali kedua kalimat yang sama di hari ini sambil mengusap rambut lepekku.

ughhh better not to touch my greasy hair, you stupid… your hand will only get.. uhm wetty,” balasku sambil tersenyum jahil. Sayup-sayup Frank Sinatra mengalun perlahan. Jam menunjukkan pukul 6 petang. Saya dan kamu belum merasa ingin pulang; kita ‘sedang’ pulang.

The Show Must Go On(line)

“Nanti ajalah.. tunggu waktu yang tepat,” I tell you, guys. Fuck timing.

I mean after a global pandemic breaks out — and we’re all now bored and maybe feel like sheize already, plus pre-apocalypse grocery shopping — like we are all in the last days of civilisation and witness how horrifying humans when it comes to survival, plus the fact that more often that not we witnessed ourselves of how ridiculous that when everyone moaning, the government isn’t doing enough to protect us. Yakin masih ada yang lebih tepat dari hari ini, saat ini?

 Saya sedang bicara buat temen-temen saya yang bekerja di bidang seni pertunjukan, ‘ntah itu aktor, penari, produser, komika, penyanyi, musisi… yang telah habis-habisan latihan dalam menyiapkan pementasan, belum ditambah dengan kenyataan bahwa disaat yang sama kita kerap kali harus menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan teknis produksian: dari urusan lampu ke makanan, hingga urusan lahan parkir dan pakaian. Kita jelas bukan Bandung Bondowoso yang ridho (atau gobloque) melakukan pembangunan seribu candi hanya dalam waktu satu malam, demi Roro Jonggrang seorang. Persiapan yang kita lakukan mungkin bisa berbulan-bulan, bahkan tahunan.

 Satu hal yang saya percaya, orang-orang panggung mafhum betul bahwa sekuat apapun manusia merencanakan, ketika sudah gong-nya segala sesuatu SANGAT MUNGKIN untuk bisa terjadi. Dari mulai aktor yang mendadak sakitlah, kostum yang jahitannya lepaslah, lampu par yang mati sebelahlah, dan segala hal lainnya yang mungkin. Tinggal para pelakunya aja mesti sadar diri dan pintar-pintar melakukan antisipasi, salah satu dan misalnya, yaa, nyiapin double-casting or understudy — yang masih jarang terjadi di ‘rumah’ sendiri karena mentok di budget (ye kan).

 Tapi kali ini, lebih seru — kalo ga bisa dibilang lucu. Kita kedatangan tamu yang luar biasa tak diundang (kepikiran aja engga ~ astaga) bernama COVID-19. Saya sendiri gagap sama hal ini. Seriously.. i mean I do love science, but no matter how cute this tiny lil creature is, how much they only mean to survive, we still don’t like them because they are parasiting on us.

Ok, anw. I’m not gonna talk about this since I know nothing about handling the COVID-19 crisis, but I know plenty. One of them is self-isolating to reduce the spread and hopefully the death rate, but of course this all will only work better if we do it together. By saying that, we shall learn to let go and face the truth that our show ought to be cancelled/delayed; which does not mean that our hard-work, sweat, and tears ain’t for nothing that we simply just sit still and do nothing. On the contrary, ini adalah waktu yang tepat untuk kita menemukan pertanyaan-pertanyaan atau bahkan solusi alternatif atas kebutuhan artistik, produksi, sumber daya manusia, dan lain sebagainya.

Kita bisa lihat bagaimana seorang performer Broadway senior, Laura Bernanti, melalui akun instagramnya membuat gerakan #SunshineSong dengan mengundang anak-anak sekolah menengah atas yang gagal atau menunda pentas musikalnya untuk mengunggah video latihan atau pementasannya. Ia berkenan untuk menjadi penonton (online)nya. Hal ini lantas diamini oleh Lin Manuel Miranda lewat akun twitternya. Sebuah ajakan yang cerdas nan efektif, imho!. Atau kita bisa lihat  kesigapan Berliner Philaharmoniker dalam membuka koleksi arsipnya menjadi konser digital dan dapat diakses secara gratis! (dude, go check the link!). Kalau dalam seni rupa, ada Art Basel yang meluncurkan online viewing rooms untuk memudahkan dealer atau kolektor secara virtual. Kalau buat saya sendiri, sih, belum ada yang ngalahin interaktif dan partisipatifnya warga Italia bernyanyi bersama di balkon, atau seorang trainer di spanyol yang mengajak penghuni apartemen untuk olahraga bersama. Selengkapnya bisa dilihat di sini. I mean, talking about performances and architecture has always been a sexy topic for me ~

The point is.. ayolah, jangan dulu nyerah. Saya tahu ini susah. Dan jelas ga semua orang ikut memikirkan kegelisahan yang menghampiri hidup dan mati (baca: pekerjaan) kita. Tapi inget, hari ini kita punya sosial media, kenapa juga ga kita manfaatkan waktu-waktu ini untuk pamer kebolehan? I mean, in a serious and professional way..  agar supaya masyarakat juga tahu bahwa tarian juga perlu teknik, komitmen, dan dedikasi — no offense, Tik tok. Begitupun akting. Atau bermusik.

But, Ken, if it’s not about money it does not make sense… ya, it’s somehow true, and i don’t have any specific answer regarding this. It’s our own principle, and strategy. But lemme tell you, pekerjaan yang saya dapatkan justru seringkali datang via sapaan di DM Instagram/linked-in/Email. Idk, but for me, ini waktu yang tepat untuk kita ‘jualan’. Di saat yang sama, saya yakin kita semua udah eneg-eneg butuh sama yang namanya berita. Let’s help people by providing them a beneficial intermezzo; something that allows netizen, and all of us to breathe by showing our works into the grid, probably a 15 seconds to one minute show, so that our friends who are isolating themselves at home, may be able to access and get the most benefit of it.

Seriusan, deh, kalau bukan sekarang, kapan lagi?

— 

Thanks @fiorentfernisia for helping me checked (and revised) my writings (or more can be called blabber?) X

#4

St. Pancras Old Church

Let My Country Awake

By Rabindranath Tagore

Where the mind is without fear and the head is held high;
Where knowledge is free;
Where the world has not been broken up into fragments by narrow domestic walls;
Where words come out from the depth of truth;
Where tireless striving stretches its arms towards perfection;
Where the clear stream of reason has not lost its way into the dreary desert sand of dead habit;


Where the mind is led forward by thee into ever-widening thought and action –
Into that heaven of freedom, my Father, let my country awake.

The original Bengali language poem, “Chitto jetha bhayashunyo”, was published in 1910 and included in the collection Gitanjali by Tagore.

#3

Manusia itu bernama jembatan. Karakternya yang kokoh, mampu membelah sungai Thames; menyatukan gedung tua, Gereja St. Paul, dan bangunan eksentrik, Tate Modern, sekaligus. Ia tak pelak sama seperti manusia lainnya, sekalipun nampak kuat, isi kepalanya tak pernah sepi dari segala hal yang lalu lalang. Berantakan. Meski seringkali saya menyengajakan diri untuk ikut meramaikan. Alasannya sederhana: karena justru dalam keramaian itulah saya sering menemukan dirinya tengah linglung dan merenung. Gemas.

Pernah di suatu hari yang kelabu saya kembali bertandang. Kali ini dengan beban bawaan yang cukup membingungkan. Saya tahu, tanpa saya pun, Jembatan sudah terlampau banyak menampung beban. Tapi saya juga tahu, seberapapun berat, Jembatan akan selalu tahu kemana rasa gundah mestinya diletakkan.

Di London, hujan tak akan pernah lebih deras dari tangisan. Jembatan beberapa kali mengusap air mata saya di pipi dengan lembut. Saya menatapnya dalam-dalam. Bagaimana bisa ia menenangkan saya di saat matanya juga ikut memerah menahan pilu? Ah, mungkin benar apa yang pernah disampaikan Ayah saya suatu kali,

“Tuhan menciptakan pundak lelaki untuk menyangga tangis perempuan, Dan, Tuhan menciptakan tangis perempuan agar laki-laki melupakan tangisnya sendiri”

Jembatan harus pergi. Menemui jiwa-jiwa lain yang sudah lebih dulu Ia ikat dengan janji. Saya mengerti. Lagi, hidup bukanlah hanya tentang diri sendiri. Zoon politicon. ‘Alaq. Kita adalah rangkuman dari tanggung jawab yang satu ke tanggung jawab lainnya. Saya memintanya untuk segera pergi. Sudah lebih 15 menit dari waktu yang dijadwalkan. Tepat sebelum Ia beranjak dari duduknya, Ia sempat mengucap sebuah kalimat, “Dulu, ketika saya masih berdoa dan percaya, saya cuma menggumam suatu hal: If You want to use me for anything into Greatness, use me.. just use me. Saya ikhlas,” diikuti tangis yang tumpah sejadi-jadinya.

Saya dekap erat Jembatan, karena kata tak lagi mampu merangkul segala kerinduan yang sukar dikatakan. Teruntuk Jembatan… kolam sudah terlanjur dibuat oleh tawa dan tangis kita sendiri. Ujung kaki kita sudah mengecap basahnya. Tak ada jalan mundur, ujarku dalam hati.

Kita sudah tercebur.

#2

Kamu tau, ruangan sempit kerapkali membuat pikiranmu ikut sempit. Itu yang biasanya terjadi padaku tatkala harus duduk berjam-jam di balik layar untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang tiada berkesudahan ini.

Kecuali malam itu.

Secara tidak sengaja kita bertemu dan bertukar sapa di ruang makan. Ini bukan kali pertama, tentu. Sebelumnya sudah banyak terjadi percakapan di ruang berukuran sekitar 3×4 meter ini; tempat yang baik untuk menjaga jarak pandang, kurang pas untuk meregangkan badan. “Ke kamar saya aja, di sana luas. Kamu tahu itu. Cukup leluasa untuk membuatmu jauh dari tempat tidur,” ujarmu.

Tanpa pikir panjang, saya mengangguk.

Pada pukul 10 malam yang pekat saya duduk di meja belajarmu dan mulai mengerut-ngerutkan kening karena merasa bingung harus memulai darimana. Kamu asik sendiri dengan duniamu, saya pun asik sendiri melamun tentang segala kemungkinan yang dapat saya tuliskan. Hingga waktu menunjukkan lewat tengah malam, kamu jatuh tertidur, saya justru semakin terjaga. Kamu tau, keheningan dalam kebersamaan seperti ini seringkali mendamaikan perasaan.

Tak ada keharusan untuk memulai percakapan. Tak ada keharusan untuk membagi isi pikiran. Saya dan kamu hanya tahu kita sedang terlalu lelah berkawan dengan kesendirian.

#1

Berhati-hatilah menggunakan mata. Acapkali, sebuah tatapan bisa jauh lebih merasuk jiwa raga ketimbang kata-kata. Tahun 2015, misalnya. Kala itu sebelum pementasan teater-sirkus tunggal asal Perancis di mulai, kita memutuskan untuk singgah sejenak. Menyantap makan malam di sebuah café yang aku lupa namanya, namun masih teringat jelas rasanya.

Sepiring spaghetti penuh saus yang terlalu manis dan jus yang luar biasa asamnya. Sungguh bukan perpaduan yang tepat untuk menuntaskan hobi kelaparanku kala itu. Sementara kamu, seperti biasa, tak memilih untuk makan apa-apa. Aku menyantap menu pesananku dengan sedikit tak berselera. Kamu diam dan memperhatikanku dengan seksama. Tak lama, aku berkata,

“Eh, gue nyeker ya…. pengen ngijek tanah.”

Kamu tertawa. Pasrah. Seperti ingin mengucap terserah dengan cara paling lembut.

“Kalo iket rambut punya, ga? Gerah nih.”

Tatapanmu sedikit berubah. Seraya mengambil ikat rambut dari pergelangan tanganmu, keningmu berkerut seperti hendak memberikan pertanyaan. Belum sempat kamu berbicara, aku kembali berceloteh,

“Gue bingung, deh.. orang kok bisa, sih, hidupnya jaim. Jadi diri sendiri aja repot apalagi jadi orang lain.”

Tiba-tiba kamu tertawa. Tidak bisa dibilang keras, meski sulit juga untuk mengatakan bahwa tawamu cukup pelan untuk membuat beberapa orang di ruangan ikut menoleh.

“Hushhh…. itu orang sampe ikutan nengok (kepalaku ikut serta celingak-celinguk). Eh, liat deh yang disebrang meja kita, konsekuensi baik apa, ya, yang lagi mereka perjuangkan ketika harus tetap bekerja di akhir pekan?”, ujarku sambil tetap menengok ke arah samping.

3.. 4.. 5.. detik tak ada jawaban. Merasa tidak diacuhkan, aku menoleh kembali ke arahmu ketika kutemukan matamu memandangku dengan sangat tegas dan jelas.

Deg!

Kini, aku yang diam. Tatapan itu… rangkuman antara ketakjuban, ketidakpercayaan, kekaguman, serta ketakutan sekaligus.

Mendadak sunyi.

Aku senantiasa salah tingkah. Berusaha menengahi waktu yang terlanjur berhenti dengan lamat-lamat membuka suara, “Eh, kenapa?”. Lalu, seperti biasa. Ketidakfasihanmu dalam memilih kata membuat senyummu hadir sebagai jawaban. Ga, ga… aku masih perlu menagihnya dengan bentuk lain. Aku menatap dan mendekat. Perlahan kamu menggumam, “Engga.. gapapa”. Sebelum akhirnya kamu tersipu malu.

Kamu tahu? aku tidak terlampau bodoh untuk dapat mengerti. Bahwa tidak apa-apa adalah justru apa-apa yang paling apa-apa. Akui saja. Setelah saat itu, detik itu, mata itu… 

….kita tidak akan (pernah) sama lagi.

Sebermula.

16/11/2019 – Woburn Pl, London

Aku lebih takut ketika hidupku tidak bermanfaat buat orang lain. Aku tidak mau kehidupanku di dunia sia-sia terus nanti ketika ketemu Tuhan terus aku bilang ke Dia: “Yah, aku nggak ngapa-ngapain. Sorry.” – Muhammad Khan

https://greatmind.id

Kurang berbakat kalo bikin janji. Tapi kalo harus, saya berjanji untuk terus berusaha tidak membohongi hati nurani. Misalnya, menulis apa-apa yang terlintas di hati dan kepala – meski tak memiliki kejelasan intensi kecuali hanya untuk berbagi, dengan gagah berani. Mari mampir sini! Satu-dua kali dalam sepekan cukup, kan?