The Show Must Go On(line)

“Nanti ajalah.. tunggu waktu yang tepat,” I tell you, guys. Fuck timing.

I mean after a global pandemic breaks out — and we’re all now bored and maybe feel like sheize already, plus pre-apocalypse grocery shopping — like we are all in the last days of civilisation and witness how horrifying humans when it comes to survival, plus the fact that more often that not we witnessed ourselves of how ridiculous that when everyone moaning, the government isn’t doing enough to protect us. Yakin masih ada yang lebih tepat dari hari ini, saat ini?

 Saya sedang bicara buat temen-temen saya yang bekerja di bidang seni pertunjukan, ‘ntah itu aktor, penari, produser, komika, penyanyi, musisi… yang telah habis-habisan latihan dalam menyiapkan pementasan, belum ditambah dengan kenyataan bahwa disaat yang sama kita kerap kali harus menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan teknis produksian: dari urusan lampu ke makanan, hingga urusan lahan parkir dan pakaian. Kita jelas bukan Bandung Bondowoso yang ridho (atau gobloque) melakukan pembangunan seribu candi hanya dalam waktu satu malam, demi Roro Jonggrang seorang. Persiapan yang kita lakukan mungkin bisa berbulan-bulan, bahkan tahunan.

 Satu hal yang saya percaya, orang-orang panggung mafhum betul bahwa sekuat apapun manusia merencanakan, ketika sudah gong-nya segala sesuatu SANGAT MUNGKIN untuk bisa terjadi. Dari mulai aktor yang mendadak sakitlah, kostum yang jahitannya lepaslah, lampu par yang mati sebelahlah, dan segala hal lainnya yang mungkin. Tinggal para pelakunya aja mesti sadar diri dan pintar-pintar melakukan antisipasi, salah satu dan misalnya, yaa, nyiapin double-casting or understudy — yang masih jarang terjadi di ‘rumah’ sendiri karena mentok di budget (ye kan).

 Tapi kali ini, lebih seru — kalo ga bisa dibilang lucu. Kita kedatangan tamu yang luar biasa tak diundang (kepikiran aja engga ~ astaga) bernama COVID-19. Saya sendiri gagap sama hal ini. Seriously.. i mean I do love science, but no matter how cute this tiny lil creature is, how much they only mean to survive, we still don’t like them because they are parasiting on us.

Ok, anw. I’m not gonna talk about this since I know nothing about handling the COVID-19 crisis, but I know plenty. One of them is self-isolating to reduce the spread and hopefully the death rate, but of course this all will only work better if we do it together. By saying that, we shall learn to let go and face the truth that our show ought to be cancelled/delayed; which does not mean that our hard-work, sweat, and tears ain’t for nothing that we simply just sit still and do nothing. On the contrary, ini adalah waktu yang tepat untuk kita menemukan pertanyaan-pertanyaan atau bahkan solusi alternatif atas kebutuhan artistik, produksi, sumber daya manusia, dan lain sebagainya.

Kita bisa lihat bagaimana seorang performer Broadway senior, Laura Bernanti, melalui akun instagramnya membuat gerakan #SunshineSong dengan mengundang anak-anak sekolah menengah atas yang gagal atau menunda pentas musikalnya untuk mengunggah video latihan atau pementasannya. Ia berkenan untuk menjadi penonton (online)nya. Hal ini lantas diamini oleh Lin Manuel Miranda lewat akun twitternya. Sebuah ajakan yang cerdas nan efektif, imho!. Atau kita bisa lihat  kesigapan Berliner Philaharmoniker dalam membuka koleksi arsipnya menjadi konser digital dan dapat diakses secara gratis! (dude, go check the link!). Kalau dalam seni rupa, ada Art Basel yang meluncurkan online viewing rooms untuk memudahkan dealer atau kolektor secara virtual. Kalau buat saya sendiri, sih, belum ada yang ngalahin interaktif dan partisipatifnya warga Italia bernyanyi bersama di balkon, atau seorang trainer di spanyol yang mengajak penghuni apartemen untuk olahraga bersama. Selengkapnya bisa dilihat di sini. I mean, talking about performances and architecture has always been a sexy topic for me ~

The point is.. ayolah, jangan dulu nyerah. Saya tahu ini susah. Dan jelas ga semua orang ikut memikirkan kegelisahan yang menghampiri hidup dan mati (baca: pekerjaan) kita. Tapi inget, hari ini kita punya sosial media, kenapa juga ga kita manfaatkan waktu-waktu ini untuk pamer kebolehan? I mean, in a serious and professional way..  agar supaya masyarakat juga tahu bahwa tarian juga perlu teknik, komitmen, dan dedikasi — no offense, Tik tok. Begitupun akting. Atau bermusik.

But, Ken, if it’s not about money it does not make sense… ya, it’s somehow true, and i don’t have any specific answer regarding this. It’s our own principle, and strategy. But lemme tell you, pekerjaan yang saya dapatkan justru seringkali datang via sapaan di DM Instagram/linked-in/Email. Idk, but for me, ini waktu yang tepat untuk kita ‘jualan’. Di saat yang sama, saya yakin kita semua udah eneg-eneg butuh sama yang namanya berita. Let’s help people by providing them a beneficial intermezzo; something that allows netizen, and all of us to breathe by showing our works into the grid, probably a 15 seconds to one minute show, so that our friends who are isolating themselves at home, may be able to access and get the most benefit of it.

Seriusan, deh, kalau bukan sekarang, kapan lagi?

— 

Thanks @fiorentfernisia for helping me checked (and revised) my writings (or more can be called blabber?) X

#4

St. Pancras Old Church

Let My Country Awake

By Rabindranath Tagore

Where the mind is without fear and the head is held high;
Where knowledge is free;
Where the world has not been broken up into fragments by narrow domestic walls;
Where words come out from the depth of truth;
Where tireless striving stretches its arms towards perfection;
Where the clear stream of reason has not lost its way into the dreary desert sand of dead habit;


Where the mind is led forward by thee into ever-widening thought and action –
Into that heaven of freedom, my Father, let my country awake.

The original Bengali language poem, “Chitto jetha bhayashunyo”, was published in 1910 and included in the collection Gitanjali by Tagore.

#3

Manusia itu bernama jembatan. Karakternya yang kokoh, mampu membelah sungai Thames; menyatukan gedung tua, Gereja St. Paul, dan bangunan eksentrik, Tate Modern, sekaligus. Ia tak pelak sama seperti manusia lainnya, sekalipun nampak kuat, isi kepalanya tak pernah sepi dari segala hal yang lalu lalang. Berantakan. Meski seringkali saya menyengajakan diri untuk ikut meramaikan. Alasannya sederhana: karena justru dalam keramaian itulah saya sering menemukan dirinya tengah linglung dan merenung. Gemas.

Pernah di suatu hari yang kelabu saya kembali bertandang. Kali ini dengan beban bawaan yang cukup membingungkan. Saya tahu, tanpa saya pun, Jembatan sudah terlampau banyak menampung beban. Tapi saya juga tahu, seberapapun berat, Jembatan akan selalu tahu kemana rasa gundah mestinya diletakkan.

Di London, hujan tak akan pernah lebih deras dari tangisan. Jembatan beberapa kali mengusap air mata saya di pipi dengan lembut. Saya menatapnya dalam-dalam. Bagaimana bisa ia menenangkan saya di saat matanya juga ikut memerah menahan pilu? Ah, mungkin benar apa yang pernah disampaikan Ayah saya suatu kali,

“Tuhan menciptakan pundak lelaki untuk menyangga tangis perempuan, Dan, Tuhan menciptakan tangis perempuan agar laki-laki melupakan tangisnya sendiri”

Jembatan harus pergi. Menemui jiwa-jiwa lain yang sudah lebih dulu Ia ikat dengan janji. Saya mengerti. Lagi, hidup bukanlah hanya tentang diri sendiri. Zoon politicon. ‘Alaq. Kita adalah rangkuman dari tanggung jawab yang satu ke tanggung jawab lainnya. Saya memintanya untuk segera pergi. Sudah lebih 15 menit dari waktu yang dijadwalkan. Tepat sebelum Ia beranjak dari duduknya, Ia sempat mengucap sebuah kalimat, “Dulu, ketika saya masih berdoa dan percaya, saya cuma menggumam suatu hal: If You want to use me for anything into Greatness, use me.. just use me. Saya ikhlas,” diikuti tangis yang tumpah sejadi-jadinya.

Saya dekap erat Jembatan, karena kata tak lagi mampu merangkul segala kerinduan yang sukar dikatakan. Teruntuk Jembatan… kolam sudah terlanjur dibuat oleh tawa dan tangis kita sendiri. Ujung kaki kita sudah mengecap basahnya. Tak ada jalan mundur, ujarku dalam hati.

Kita sudah tercebur.

#2

Kamu tau, ruangan sempit kerapkali membuat pikiranmu ikut sempit. Itu yang biasanya terjadi padaku tatkala harus duduk berjam-jam di balik layar untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang tiada berkesudahan ini.

Kecuali malam itu.

Secara tidak sengaja kita bertemu dan bertukar sapa di ruang makan. Ini bukan kali pertama, tentu. Sebelumnya sudah banyak terjadi percakapan di ruang berukuran sekitar 3×4 meter ini; tempat yang baik untuk menjaga jarak pandang, kurang pas untuk meregangkan badan. “Ke kamar saya aja, di sana luas. Kamu tahu itu. Cukup leluasa untuk membuatmu jauh dari tempat tidur,” ujarmu.

Tanpa pikir panjang, saya mengangguk.

Pada pukul 10 malam yang pekat saya duduk di meja belajarmu dan mulai mengerut-ngerutkan kening karena merasa bingung harus memulai darimana. Kamu asik sendiri dengan duniamu, saya pun asik sendiri melamun tentang segala kemungkinan yang dapat saya tuliskan. Hingga waktu menunjukkan lewat tengah malam, kamu jatuh tertidur, saya justru semakin terjaga. Kamu tau, keheningan dalam kebersamaan seperti ini seringkali mendamaikan perasaan.

Tak ada keharusan untuk memulai percakapan. Tak ada keharusan untuk membagi isi pikiran. Saya dan kamu hanya tahu kita sedang terlalu lelah berkawan dengan kesendirian.

#1

Berhati-hatilah menggunakan mata. Acapkali, sebuah tatapan bisa jauh lebih merasuk jiwa raga ketimbang kata-kata. Tahun 2015, misalnya. Kala itu sebelum pementasan teater-sirkus tunggal asal Perancis di mulai, kita memutuskan untuk singgah sejenak. Menyantap makan malam di sebuah café yang aku lupa namanya, namun masih teringat jelas rasanya.

Sepiring spaghetti penuh saus yang terlalu manis dan jus yang luar biasa asamnya. Sungguh bukan perpaduan yang tepat untuk menuntaskan hobi kelaparanku kala itu. Sementara kamu, seperti biasa, tak memilih untuk makan apa-apa. Aku menyantap menu pesananku dengan sedikit tak berselera. Kamu diam dan memperhatikanku dengan seksama. Tak lama, aku berkata,

“Eh, gue nyeker ya…. pengen ngijek tanah.”

Kamu tertawa. Pasrah. Seperti ingin mengucap terserah dengan cara paling lembut.

“Kalo iket rambut punya, ga? Gerah nih.”

Tatapanmu sedikit berubah. Seraya mengambil ikat rambut dari pergelangan tanganmu, keningmu berkerut seperti hendak memberikan pertanyaan. Belum sempat kamu berbicara, aku kembali berceloteh,

“Gue bingung, deh.. orang kok bisa, sih, hidupnya jaim. Jadi diri sendiri aja repot apalagi jadi orang lain.”

Tiba-tiba kamu tertawa. Tidak bisa dibilang keras, meski sulit juga untuk mengatakan bahwa tawamu cukup pelan untuk membuat beberapa orang di ruangan ikut menoleh.

“Hushhh…. itu orang sampe ikutan nengok (kepalaku ikut serta celingak-celinguk). Eh, liat deh yang disebrang meja kita, konsekuensi baik apa, ya, yang lagi mereka perjuangkan ketika harus tetap bekerja di akhir pekan?”, ujarku sambil tetap menengok ke arah samping.

3.. 4.. 5.. detik tak ada jawaban. Merasa tidak diacuhkan, aku menoleh kembali ke arahmu ketika kutemukan matamu memandangku dengan sangat tegas dan jelas.

Deg!

Kini, aku yang diam. Tatapan itu… rangkuman antara ketakjuban, ketidakpercayaan, kekaguman, serta ketakutan sekaligus.

Mendadak sunyi.

Aku senantiasa salah tingkah. Berusaha menengahi waktu yang terlanjur berhenti dengan lamat-lamat membuka suara, “Eh, kenapa?”. Lalu, seperti biasa. Ketidakfasihanmu dalam memilih kata membuat senyummu hadir sebagai jawaban. Ga, ga… aku masih perlu menagihnya dengan bentuk lain. Aku menatap dan mendekat. Perlahan kamu menggumam, “Engga.. gapapa”. Sebelum akhirnya kamu tersipu malu.

Kamu tahu? aku tidak terlampau bodoh untuk dapat mengerti. Bahwa tidak apa-apa adalah justru apa-apa yang paling apa-apa. Akui saja. Setelah saat itu, detik itu, mata itu… 

….kita tidak akan (pernah) sama lagi.

Sebermula.

16/11/2019 – Woburn Pl, London

Aku lebih takut ketika hidupku tidak bermanfaat buat orang lain. Aku tidak mau kehidupanku di dunia sia-sia terus nanti ketika ketemu Tuhan terus aku bilang ke Dia: “Yah, aku nggak ngapa-ngapain. Sorry.” – Muhammad Khan

https://greatmind.id

Kurang berbakat kalo bikin janji. Tapi kalo harus, saya berjanji untuk terus berusaha tidak membohongi hati nurani. Misalnya, menulis apa-apa yang terlintas di hati dan kepala – meski tak memiliki kejelasan intensi kecuali hanya untuk berbagi, dengan gagah berani. Mari mampir sini! Satu-dua kali dalam sepekan cukup, kan?