#4

St. Pancras Old Church

Let My Country Awake

By Rabindranath Tagore

Where the mind is without fear and the head is held high;
Where knowledge is free;
Where the world has not been broken up into fragments by narrow domestic walls;
Where words come out from the depth of truth;
Where tireless striving stretches its arms towards perfection;
Where the clear stream of reason has not lost its way into the dreary desert sand of dead habit;


Where the mind is led forward by thee into ever-widening thought and action –
Into that heaven of freedom, my Father, let my country awake.

The original Bengali language poem, “Chitto jetha bhayashunyo”, was published in 1910 and included in the collection Gitanjali by Tagore.

#3

Manusia itu bernama jembatan. Karakternya yang kokoh, mampu membelah sungai Thames; menyatukan gedung tua, Gereja St. Paul, dan bangunan eksentrik, Tate Modern, sekaligus. Ia tak pelak sama seperti manusia lainnya, sekalipun nampak kuat, isi kepalanya tak pernah sepi dari segala hal yang lalu lalang. Berantakan. Meski seringkali saya menyengajakan diri untuk ikut meramaikan. Alasannya sederhana: karena justru dalam keramaian itulah saya sering menemukan dirinya tengah linglung dan merenung. Gemas.

Pernah di suatu hari yang kelabu saya kembali bertandang. Kali ini dengan beban bawaan yang cukup membingungkan. Saya tahu, tanpa saya pun, Jembatan sudah terlampau banyak menampung beban. Tapi saya juga tahu, seberapapun berat, Jembatan akan selalu tahu kemana rasa gundah mestinya diletakkan.

Di London, hujan tak akan pernah lebih deras dari tangisan. Jembatan beberapa kali mengusap air mata saya di pipi dengan lembut. Saya menatapnya dalam-dalam. Bagaimana bisa ia menenangkan saya di saat matanya juga ikut memerah menahan pilu? Ah, mungkin benar apa yang pernah disampaikan Ayah saya suatu kali,

“Tuhan menciptakan pundak lelaki untuk menyangga tangis perempuan, Dan, Tuhan menciptakan tangis perempuan agar laki-laki melupakan tangisnya sendiri”

Jembatan harus pergi. Menemui jiwa-jiwa lain yang sudah lebih dulu Ia ikat dengan janji. Saya mengerti. Lagi, hidup bukanlah hanya tentang diri sendiri. Zoon politicon. ‘Alaq. Kita adalah rangkuman dari tanggung jawab yang satu ke tanggung jawab lainnya. Saya memintanya untuk segera pergi. Sudah lebih 15 menit dari waktu yang dijadwalkan. Tepat sebelum Ia beranjak dari duduknya, Ia sempat mengucap sebuah kalimat, “Dulu, ketika saya masih berdoa dan percaya, saya cuma menggumam suatu hal: If You want to use me for anything into Greatness, use me.. just use me. Saya ikhlas,” diikuti tangis yang tumpah sejadi-jadinya.

Saya dekap erat Jembatan, karena kata tak lagi mampu merangkul segala kerinduan yang sukar dikatakan. Teruntuk Jembatan… kolam sudah terlanjur dibuat oleh tawa dan tangis kita sendiri. Ujung kaki kita sudah mengecap basahnya. Tak ada jalan mundur, ujarku dalam hati.

Kita sudah tercebur.

#2

Kamu tau, ruangan sempit kerapkali membuat pikiranmu ikut sempit. Itu yang biasanya terjadi padaku tatkala harus duduk berjam-jam di balik layar untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang tiada berkesudahan ini.

Kecuali malam itu.

Secara tidak sengaja kita bertemu dan bertukar sapa di ruang makan. Ini bukan kali pertama, tentu. Sebelumnya sudah banyak terjadi percakapan di ruang berukuran sekitar 3×4 meter ini; tempat yang baik untuk menjaga jarak pandang, kurang pas untuk meregangkan badan. “Ke kamar saya aja, di sana luas. Kamu tahu itu. Cukup leluasa untuk membuatmu jauh dari tempat tidur,” ujarmu.

Tanpa pikir panjang, saya mengangguk.

Pada pukul 10 malam yang pekat saya duduk di meja belajarmu dan mulai mengerut-ngerutkan kening karena merasa bingung harus memulai darimana. Kamu asik sendiri dengan duniamu, saya pun asik sendiri melamun tentang segala kemungkinan yang dapat saya tuliskan. Hingga waktu menunjukkan lewat tengah malam, kamu jatuh tertidur, saya justru semakin terjaga. Kamu tau, keheningan dalam kebersamaan seperti ini seringkali mendamaikan perasaan.

Tak ada keharusan untuk memulai percakapan. Tak ada keharusan untuk membagi isi pikiran. Saya dan kamu hanya tahu kita sedang terlalu lelah berkawan dengan kesendirian.

#1

Berhati-hatilah menggunakan mata. Acapkali, sebuah tatapan bisa jauh lebih merasuk jiwa raga ketimbang kata-kata. Tahun 2015, misalnya. Kala itu sebelum pementasan teater-sirkus tunggal asal Perancis di mulai, kita memutuskan untuk singgah sejenak. Menyantap makan malam di sebuah café yang aku lupa namanya, namun masih teringat jelas rasanya.

Sepiring spaghetti penuh saus yang terlalu manis dan jus yang luar biasa asamnya. Sungguh bukan perpaduan yang tepat untuk menuntaskan hobi kelaparanku kala itu. Sementara kamu, seperti biasa, tak memilih untuk makan apa-apa. Aku menyantap menu pesananku dengan sedikit tak berselera. Kamu diam dan memperhatikanku dengan seksama. Tak lama, aku berkata,

“Eh, gue nyeker ya…. pengen ngijek tanah.”

Kamu tertawa. Pasrah. Seperti ingin mengucap terserah dengan cara paling lembut.

“Kalo iket rambut punya, ga? Gerah nih.”

Tatapanmu sedikit berubah. Seraya mengambil ikat rambut dari pergelangan tanganmu, keningmu berkerut seperti hendak memberikan pertanyaan. Belum sempat kamu berbicara, aku kembali berceloteh,

“Gue bingung, deh.. orang kok bisa, sih, hidupnya jaim. Jadi diri sendiri aja repot apalagi jadi orang lain.”

Tiba-tiba kamu tertawa. Tidak bisa dibilang keras, meski sulit juga untuk mengatakan bahwa tawamu cukup pelan untuk membuat beberapa orang di ruangan ikut menoleh.

“Hushhh…. itu orang sampe ikutan nengok (kepalaku ikut serta celingak-celinguk). Eh, liat deh yang disebrang meja kita, konsekuensi baik apa, ya, yang lagi mereka perjuangkan ketika harus tetap bekerja di akhir pekan?”, ujarku sambil tetap menengok ke arah samping.

3.. 4.. 5.. detik tak ada jawaban. Merasa tidak diacuhkan, aku menoleh kembali ke arahmu ketika kutemukan matamu memandangku dengan sangat tegas dan jelas.

Deg!

Kini, aku yang diam. Tatapan itu… rangkuman antara ketakjuban, ketidakpercayaan, kekaguman, serta ketakutan sekaligus.

Mendadak sunyi.

Aku senantiasa salah tingkah. Berusaha menengahi waktu yang terlanjur berhenti dengan lamat-lamat membuka suara, “Eh, kenapa?”. Lalu, seperti biasa. Ketidakfasihanmu dalam memilih kata membuat senyummu hadir sebagai jawaban. Ga, ga… aku masih perlu menagihnya dengan bentuk lain. Aku menatap dan mendekat. Perlahan kamu menggumam, “Engga.. gapapa”. Sebelum akhirnya kamu tersipu malu.

Kamu tahu? aku tidak terlampau bodoh untuk dapat mengerti. Bahwa tidak apa-apa adalah justru apa-apa yang paling apa-apa. Akui saja. Setelah saat itu, detik itu, mata itu… 

….kita tidak akan (pernah) sama lagi.

Sebermula.

16/11/2019 – Woburn Pl, London

Aku lebih takut ketika hidupku tidak bermanfaat buat orang lain. Aku tidak mau kehidupanku di dunia sia-sia terus nanti ketika ketemu Tuhan terus aku bilang ke Dia: “Yah, aku nggak ngapa-ngapain. Sorry.” – Muhammad Khan

https://greatmind.id

Kurang berbakat kalo bikin janji. Tapi kalo harus, saya berjanji untuk terus berusaha tidak membohongi hati nurani. Misalnya, menulis apa-apa yang terlintas di hati dan kepala – meski tak memiliki kejelasan intensi kecuali hanya untuk berbagi, dengan gagah berani. Mari mampir sini! Satu-dua kali dalam sepekan cukup, kan?