Catatan Patah Hati.

Setiap emosi butuh kanalisasi. Tak terkecuali hari-hari ini; dua hari setelah saya memutus koneksi dalam segala bentuk dengan dua orang yang (setengah mati) saya sayangi. Meski rasa itu tak sekuat dahulu, lewat merekalah saat ini saya jauh lebih menyadari: bahwa hubungan, apapun wujudnya, adalah tentang mengelola ekspektasi secara bersama-sama. Maka perlu kesadaran dan kedewasaan untuk terus menerus membuka diri, termasuk bersiap sakit hati, dengan membuat ruang-ruang dialog sesering mungkin. Sayangnya, tidak semua orang memiliki waktu dan kesiapan yang sama. Tak jarang beberapa dari kita memilih untuk menunda, meniadakan, bahkan menyembunyikan suatu asumsi hanya karena membicarakan berarti menutup segala kemungkinan. Saya tidak begitu. Tidak ada yang bisa menjanjikan hari esok, dan setiap hari manusia pasti berubah, lewat 2 fakta ini maka mengapa kita masih saja terus-terusan bergantung pada ‘lihat saja nanti’?

Duduk. Utarakan. Jelaskan. Dengarkan. Pahami. Hayati. Lalu bersama mencari solusi..

Sebut saja mereka Biru dan Merah. Keduanya saya kenal saat kami sama-sama bersekolah di Bandung. Secara garis besar, keduanya memiliki kesamaan karakter: kritis, berorientasi pada detail, dan keras kepala. Jika ada perbedaan yang mencolok itu adalah Biru yang sangatlah sensitif dan submisif, sementara Merah yang cenderung agresif. Di hadapan Biru, yang baru saya sadari ‘keberadaannya’ tahun 2014 —  padahal kenal sudah sejak 2010, red — saya merasa transparan, merasa ‘telanjang’. Ia dengan segala ketelatenannya (dan kepintarannya!) dapat membaca dan memahami segala dinamika pikiran serta perilaku saya dengan tepat. Terkadang saya menolak, tentu; merasa tidak setuju dan meyakini dia hanya sok tahu. Tetapi cepat atau lambat apa yang dia pikirkan tersebut, kerap kali, nyata terjadi. Dan jika ada hal yang saya cemburui dari Biru adalah karena isi otak dan wawasannya terhadap hampir segala lini keilmuan yang luas hampir tak berbatas. Biru adalah juga sosok yang dengan rajin mengirimi saya referensi, mengingatkan saya untuk daftar residensi, atau sekadar mengizinkan saya berbicara tentang apapun. Ia selalu ingin saya maju dan berkembang. Di saat yang sama Biru membuat saya justru tidak ingin kemana-mana, tetapi menemaninya. Saya tahu, Biru tahu. Hal ini bukanlah situasi dan kondisi yang ideal. Aspirasi kami barangkali tak lagi persis sama seperti saat kami banyak melakukan produksi teater dulu. Saya terus berlari — ditemani sosok lain yang datang dan sudi untuk ikut berlari, sementara Biru memilih terus berjalan dengan ritmenya sendiri. Hingga suatu hari apa yang dilantunkan Simon and Garfunkel dalam Sounds of Silence, bahwa.. people talking without speaking, people hearing without listening benar terjadi di antara kami. Saya dan Biru tidak lagi membuka ruang dialog satu sama lain. Saya memilih menutup mata, hati, telinga, dan terus-terusan percaya bahwa semua baik-baik saja; bahwa saya dan biru akan selalu tetap seperti pada awal mula. Bisa bercerita apa saja. Dan berkeluh kesah kapan saja. Denial, mereka menyebutnya. Perlu beberapa tahun lamanya untuk saya menyadari, bahwa saya dan Biru adalah pelanggan (atau korban?) dari paham bahwa persahabatan tanpa melibatkan perasaan adalah kebohongan abadi yang sampai kapanpun tetap laris peminatnya.

Tak berbeda jauh dengan Merah. “Let’s keep this closeness, but let’s not fall in love to each other, promise?” demikian Merah meminta saya di suatu siang yang entah kapan. Saya jelas tidak ingat detailnya—  percakapan ini kalau tidak salah terjadi tahun 2011, red, yang saya kenang hanyalah rasanya. Rasa dimana saya berusaha menghentikan perasaan ‘suka dan kagum’ yang mulai tumbuh perlahan. Beberapa bulan berinteraksi dengan Merah membuat hidup saya kembali bergairah. Sosoknya yang dominan dan tegas, membuat saya gelagapan menghadapinya. Tak banyak orang tahu, sekalipun saya adalah orang yang vokal dan hobi memimpin, di luar urusan pekerjaan dan organisasi, saya sangatlah ingin dipimpin. Disetirin, kalo bahasa sehari-harinya. Bersama Merah saya mendapatkan hal itu. Di saat yang sama Merah adalah sosok yang apresiatif terhadap segala hal impulsif yang saya ciptakan. Hidup terasa seperti taman bermain. Interaksi kami kemudian semakin intens ketika masa-masa sekolah tersebut kami isi dengan saling menguntungkan satu sama lain; Merah membantu saya di kelas konstruksi bangunan, saya membantu Merah di mata kuliah sastra pilihannya. Hal lain yang kemudian menguatkan koneksi kami adalah: teater dan Perancis. Rasa yang tumbuh tadi itu akhirnya terhenti, ketika kemudian sosok lain muncul dalam hidup saya. Ajakan Merah untuk tidak saling jatuh cinta, membuat saya merasa aman untuk memilih berjalan dengan sosok lain tersebut sambil tetap menjalin persahabatan dengannya. Lagi, hidup bercanda untuk kesekian kali. Di saat saya sudah memutuskan berjalan bersama orang lain, Merah marah. Dalam asumsi saya, Merah merasa saya mempermainkan perasaannya (atau lebih kompleks dari ini? Idk, really). Sampai disini saya tidak lagi ingin berkata apa-apa selain tertawa, hahaha fuck timing. But yeah long story short, cerita saya dan Merah terhenti begitu saja. Tak ada hal lain yang bisa kami lakukan selain memberi ruang untuk jarak dan waktu memainkan peran mereka untuk kami berdua.

Tahun 2020, pandemi terjadi. Waktu diam dan reflektif ini membawa ingatan saya jauhhhh melayang ke keberadaan mereka yang sudah bertahun-tahun tak tersentuh. Saya pikir, baik Biru dan Merah, telah memaafkan dirinya dan juga saya atas apa yang telah terjadi di masa lalu. Saya pikir, baik Biru dan Merah, akan kembali memberikan kesempatan untuk ruang dialog kembali terbuka; kemudian mengizinkan diri kita masing-masing membuat kesepakatan yang bisa dipahami satu sama lain. Saya pikir, baik Biru dan Merah, sudah ‘selesai’ dengan segala emosinya, kemudian bersama kita dapat menertawakan kebodohan-kebodohan yang terjadi di masa lalu. Saya pikir, baik Merah dan saya, juga Biru dan saya, dapat kembali menjalin pertemanan yang suportif dan asertif. Saya pikir.

Saya pikir, untuk kali ini, saya harus berhenti berpikir. Tak ada cara lain selain saya harus menajamkan indera lain yang saya miliki. Merasakan lebih dalam lagi. Barangkali benar adanya, tidak selayaknya saya terus-terusan menggampangkan perasaan seseorang. Tak semestinya saya menganggap mereka masih berada di tempat yang sama (sahabat, red) tatkala saya tahu hidup terus berputar dan berjalan. Tak sepatutnya saya terus-terusan ngotot hadir di tengah-tengah mereka, yang barangkali masih menganggap saya ‘ancaman’, yang kehadirannya hanya akan menambah beban atau membuka luka. Ga adil, memang. Tetapi perlahan saya mulai membuka mata, hati, dan telinga saya untuk merelakan; melepaskan mereka yang tak lagi ingin ada di cerita perjalanan saya. Bukan tanpa usaha, hanya saja Biru dan Merah sudah memberikan jawaban yang cukup jelas kepada saya untuk berhenti mencoba. Iya, saya berhenti. Sudah tak ada tenaga lagi untuk saya menyakiti diri sendiri (dan orang lain, tentu). Maka, jalan terbaik adalah untuk tidak menoleh ke belakang lagi. Dan meyakini bahwa siapapun yang bersama saya saat ini adalah sahabat terbaik—  yang sekalipun suatu hari harus terhenti adalah juga untuk alasan yang baik. Amin.

Untuk Biru dan Merah, maaf dan terima kasih. Untuk segala kebodohan dan kepintaran yang pernah kita bagi bersama, semoga kelak keduanya dapat menjadi pembelajaran yang bermanfaat buat kita dalam mengarungi kehidupan yang ganas ini. Segala trauma dan ketakutan yang muncul akibat apa-apa yang pernah kita alami, semoga tak lebih besar dari rasa syukur yang kita miliki hari ini. Selamat jalan, selamat menikmati pemandangan!

Semesta memberkati.

Dengan penuh kasih,

K.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s