Karma Tak Pernah Ingkar Janji.


Ibarat radio, volume suara dunia saat ini terlampau memekkakan telinga. Kalau saja benar ada tombol itu, ingin rasanya saya putar ke arah kiri hingga habis lalu sunyi. Tak perlu bantuan siapapun atau teknologi apapun. Sebagai kaum rebahan dan generasi digital, saya bahkan rela berjalan menuju ke arah radio, sejauh apapun itu, untuk segera saya matikan sementara waktu. Kita sedang terlalu lelah bukan? Belum juga habis permasalahan krisis kesehatan yang tak kunjung kita lihat titik akhirnya, kemudian kita harus dipaparkan lagi dengan keadaan kemanusiaan yang semakin bar-bar, dan politik yang semakin menyesatkan.

Kita butuh oase di tengah gersang. Satu diantaranya adalah dengan terus berbagi kebaikan dan kepedulian sekecil apapun itu. Terdengar klise dan ‘yelah… gausah sok zen, namaste, pencitraan gitu, deh, lo” memang. Tapi percayalah, kebaikan yang tak tertangkap kamera dan muncul di stories manapun, kebaikan yang membuatmu dan orang lain tersenyum hingga lubuk hati, kebaikan yang membuatmu merasa semua akan baik-baik saja. Kebaikan yang, barangkali tak satu orang pun tahu, tetapi hanya tentang dua, tiga, atau lebih yang menjadi saksi melihat rasa cinta dan kasih itu benar-benar dibagi.

Seperti ketika saya memutuskan belanja ke Chinatown hari ini, dan bertemu dua pegawai asal Timor Leste yang bisa berbahasa Indonesia. Saya berkawan dengan mereka semasa pandemi ini, karena untuk bisa berkegiatan di luar rumah saya hanya bisa pergi ke taman atau ke toko-toko makanan saja. Kami biasa bertegur sapa dan berbincang hal-hal sederhana seperti, “Darimana asalnya” atau “sudah berapa lama tinggal di sini” dan lain sebagainya. Mengenal mereka memudahkan saya dalam beberapa hal, salah satunya adalah bahwa setiap kali saya ke sana dan antrian sedang panjang, mereka pasti membantu saya untuk bisa masuk dengan segera. Mereka akan bilang ke sekuriti bahwa saya adalah saudara jauhnya. Agak curang, memang. Tapi mereka tak sampai hati melihat saya antri bermenit-menit di tengah teriknya musim panas di kota London ini. “Kalau lokal sudah biasa, kamu kan pendatang.. butuh adaptasi pelan-pelan,” ujar mereka setiap kali saya berusaha bilang tak apa kalau harus antri.

Siang tadi saat saya membeli 6 sayap ayam potong mereka melayani saya layaknya seorang penjual kepada pembeli. Kami bertegur sapa dan berbincang ala kadar seperti biasa. Setelah mendapatkan apa yang saya butuhkan, saya pamit undur diri untuk lanjut berkeliling toko memenuhi daftar kebutuhan belanjaan yang telah saya tuliskan di rumah. Sekitar 15 menit kemudian saya bergegas menuju ke arah kasir untuk membayar. Belum ada 2 menit menganter, seorang kawan saya asal Timor Leste, dengan seragam butcher-nya, datang menghampiri saya dan bilang, “Ah ketemu juga! Saya ambil lagi ayamnya, saya ganti yang baru saja tiba.. lebih fresh,” ujarnya. Saya bingung. Jarak antara tempat daging dan kasir bisa dibilang tidak dekat, dan dari sekian banyak orang yang beli ayam Ia tak juga secara telaten melakukan hal yang sama seperti apa yang ia lakukan terhadap saya. Bukan ge-er, aselik. Saya cuma merasa tindakannya sungguhlah mulia dan penuh perhatian. Dan benar saja ketika saya sampai di tempat daging tersebut, saya menemukan box berisi daging-daging yang baru saja diturunkan dari mobil pengiriman. Warna merahnya daging terlihat lebih merona dibanding ayam yang sebelumnya; baunya pun jauh lebih ‘tawar’ dan tidak asam.

Sebelum Ia resmi mengganti ayam-ayam saya, Ia sempat berdialog dengan petugas pemasok daging dihadapannya. Saya cuma melihat dari jarak 3 meter, dan menyadari petugas itu melihat ke arah saya dan tersenyum. Ia berkata, “Just have this new one.. the quality is much better, wait for a bit ya.” Saya mengangguk dan hanya mengucap, “Oh ok, thanks..” tak lama kawan saya memberikan plastik dan isi ayam yang baru. Saya mengucap terima kasih beberapa kali. Ia menjawab sama-sama juga dengan jumlah yang sepadan.

Setelah kejadian itu, hati dan diri saya dilingkupi rasa hangat yang ‘entah layak disebut apa. Action speaks louder than words. Bahwa ada seseorang yang ingat padamu, dan berusaha memberikan yang terbaik untukmu, adalah hal yang sungguh membuat siapa saja akan merasa dicintai dan dimengerti. Lupakan dulu segala asumsi-asumsi lain yang mungkin hadir menanggapi kejadian ini. Dibenak saya, hal baik selalu mendatangkan hal baik lainnya. Sampai disini saya sadar saya ketagihan. Saya yakin hal baik yang menimpa saya barusan tidak terjadi tiba-tiba. Semesta tidak buta untuk terus membuat siklus tuai-tanam pada seluruh manusia yang ada di dunia. Mungkin saya pernah, sedang, atau akan melakukan sesuatu yang barangkali baik untuk sesama, yang tidak saya sadari, tetapi kemudian semesta ikut mengamini. Maka, apa yang saya alami hari ini adalah sungguh sebuah bukti, bahwa karma tak pernah ingkar janji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s