SAUDADE #1

“Dasar bodoh,” umpatmu sambil tetawa. Aku masih saja keras kepala berkata bahwa kosa kata itu benar adanya. Wetty — berasal dari kata wet, yang artinya basah, diimbuhi dengan -ty sebagai sesuatu yang terlampau basah. Sebenarnya kata itu tidak terlalu mengada-ngada amat. Ia muncul setelah isi kepalaku berkutat dengan kata sunny, fluffy, naughty, dan apapun yang membuatku kagum akan Bahasa Inggris yang dengan mudahnya menggambarkan sesuatu yang ‘luar biasa sangat’ dengan dua huruf saja di akhirnya.

“Serius deh! gausah maksa!” ujarmu lagi. Entah gemas, entah kesal. Apapun itu tak menghentikan lari-lari kecil kita yang berupaya mencari tempat berteduh. Saat itu hari Minggu, saya dan kamu baru saja keluar dari Westminster Cathedral usai menonton recital piano rutin secara cuma-cuma. Di tengah dingin dan air yang terus turun tanpa permisi, saya dan kamu sempat mengucap kata sepakat; bahwa apapun bentuknya, rumah ibadah selalu sama. Segala puji dan puja pada intinya adalah untuk berbagi cinta. Menebar kasih.

“Eh bentar, cinta yang mana dulu, nih? Paham kita ‘kan bisa beda.” Tanyaku sambil sesekali berusaha mengatur napas ditengah upaya mencari toko atau café terdekat. Langkahmu terhenti. Oh, please, please, semoga karena Pret A Manger, pikirku. Ternyata bukan. Kamu menghadap kearahku. Kulihat beberapa tetes hujan dari ujung rambut mengalir cukup cepat kearah coat cokelat tuamu. Mau tidak mau, saya ikut berhenti.

Seriously? It is almost the end of 2019, and you’re still busy defining — or even differentiating love?” tanyamu. Saya melengos pergi untuk kembali berlari. “Dude, you don’t have to stop running just to ask that selfish-unnecessary kind of question.” Balasku sambil menoleh sesekali melihat kamu yang juga kembali ikut berlari. Syukurlah, ujarku dalam hati. Musim dingin dan flu serta masuk angin bukanlah hal yang perlu dimiliki oleh seorang perantau macam kita berdua.

Dari kejauhan saya melihat café mungil yang nampak sepi dan hangat. Sudah terlampau dingin untuk saya membuka mulut dan berkata sesuatu. Saya menoleh, melihat matamu sekelibat, lalu mengarahkan pandangan ke tangan kanan saya yang menunjuk café bernuansa putih minimalis itu. Cepat tanggap, kamu mengangguk tanda setuju. Beberapa  menit setelahnya, saya sudah berada di depan kasir dan dengan mantap berkata, “Satu Americano dan satu soy caffe latte.”

Saya dan kamu duduk bersebelahan. Kita sama-sama sibuk menghirup aroma kopi yang sungguh menenangkan dan menghangatkan ini. Di luar rintik hujan turun semakin deras, kita menyaksikannya lewat kaca jendela yang dihiasi tumbuhan gantung disekitarnya.

“Tau darimana saya mau minum Americano?” tanyamu tiba-tiba membuyarkan suasana. Saya menoleh pelan. Hmm. “Dalam sehari setidaknya satu kali kamu butuh minum kopi. Setahu saya, hari ini kamu telat bangun dan langsung buru-buru menemui saya di Westminster. Boro-boro bikin kopi, sikat gigi aja ga sempat kayaknya haha.. Belum lagi kamu berencana menyelesaikan essay yang njelimet itu malam ini, karena katamu deadinenya besok pagi.. yaaa mana tahu kopi ini bisa bantu bikin kepala kamu ga pengen langsung rebahan pas nyampe rumah.” Kamu menoleh tepat disaat saya berhenti berbicara. “Kenapa? Sotoy banget, ya, saya?”

Kamu menggeleng lembut seraya kembali mengarahkan pandangan ke jendela. “Cinta dan paham ga melulu harus didiskusikan, apalagi diperdebatkan. Biar saja ia mengalir,” ujarmu. Saya menatapnya, sekalipun ia tak menatap saya balik. “Al-Kafirun ayat 6. Lakum Dinukum Waliyadin.. bagiku agamaku, bagimu agamamu. Cinta juga gitu. Ga bisa dipukul rata. Harus ada kesepakatan biar bisa sama-sama saling jaga dan menghargai,” balasku.

Kali ini kamu menoleh dan menatap saya dalam-dalam.

“Dasar bodoh,” ucapmu untuk kali kedua kalimat yang sama di hari ini sambil mengusap rambut lepekku.

ughhh better not to touch my greasy hair, you stupid… your hand will only get.. uhm wetty,” balasku sambil tersenyum jahil. Sayup-sayup Frank Sinatra mengalun perlahan. Jam menunjukkan pukul 6 petang. Saya dan kamu belum merasa ingin pulang; kita ‘sedang’ pulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s