#3

Manusia itu bernama jembatan. Karakternya yang kokoh, mampu membelah sungai Thames; menyatukan gedung tua, Gereja St. Paul, dan bangunan eksentrik, Tate Modern, sekaligus. Ia tak pelak sama seperti manusia lainnya, sekalipun nampak kuat, isi kepalanya tak pernah sepi dari segala hal yang lalu lalang. Berantakan. Meski seringkali saya menyengajakan diri untuk ikut meramaikan. Alasannya sederhana: karena justru dalam keramaian itulah saya sering menemukan dirinya tengah linglung dan merenung. Gemas.

Pernah di suatu hari yang kelabu saya kembali bertandang. Kali ini dengan beban bawaan yang cukup membingungkan. Saya tahu, tanpa saya pun, Jembatan sudah terlampau banyak menampung beban. Tapi saya juga tahu, seberapapun berat, Jembatan akan selalu tahu kemana rasa gundah mestinya diletakkan.

Di London, hujan tak akan pernah lebih deras dari tangisan. Jembatan beberapa kali mengusap air mata saya di pipi dengan lembut. Saya menatapnya dalam-dalam. Bagaimana bisa ia menenangkan saya di saat matanya juga ikut memerah menahan pilu? Ah, mungkin benar apa yang pernah disampaikan Ayah saya suatu kali,

“Tuhan menciptakan pundak lelaki untuk menyangga tangis perempuan, Dan, Tuhan menciptakan tangis perempuan agar laki-laki melupakan tangisnya sendiri”

Jembatan harus pergi. Menemui jiwa-jiwa lain yang sudah lebih dulu Ia ikat dengan janji. Saya mengerti. Lagi, hidup bukanlah hanya tentang diri sendiri. Zoon politicon. ‘Alaq. Kita adalah rangkuman dari tanggung jawab yang satu ke tanggung jawab lainnya. Saya memintanya untuk segera pergi. Sudah lebih 15 menit dari waktu yang dijadwalkan. Tepat sebelum Ia beranjak dari duduknya, Ia sempat mengucap sebuah kalimat, “Dulu, ketika saya masih berdoa dan percaya, saya cuma menggumam suatu hal: If You want to use me for anything into Greatness, use me.. just use me. Saya ikhlas,” diikuti tangis yang tumpah sejadi-jadinya.

Saya dekap erat Jembatan, karena kata tak lagi mampu merangkul segala kerinduan yang sukar dikatakan. Teruntuk Jembatan… kolam sudah terlanjur dibuat oleh tawa dan tangis kita sendiri. Ujung kaki kita sudah mengecap basahnya. Tak ada jalan mundur, ujarku dalam hati.

Kita sudah tercebur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s