#2

Kamu tau, ruangan sempit kerapkali membuat pikiranmu ikut sempit. Itu yang biasanya terjadi padaku tatkala harus duduk berjam-jam di balik layar untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang tiada berkesudahan ini.

Kecuali malam itu.

Secara tidak sengaja kita bertemu dan bertukar sapa di ruang makan. Ini bukan kali pertama, tentu. Sebelumnya sudah banyak terjadi percakapan di ruang berukuran sekitar 3×4 meter ini; tempat yang baik untuk menjaga jarak pandang, kurang pas untuk meregangkan badan. “Ke kamar saya aja, di sana luas. Kamu tahu itu. Cukup leluasa untuk membuatmu jauh dari tempat tidur,” ujarmu.

Tanpa pikir panjang, saya mengangguk.

Pada pukul 10 malam yang pekat saya duduk di meja belajarmu dan mulai mengerut-ngerutkan kening karena merasa bingung harus memulai darimana. Kamu asik sendiri dengan duniamu, saya pun asik sendiri melamun tentang segala kemungkinan yang dapat saya tuliskan. Hingga waktu menunjukkan lewat tengah malam, kamu jatuh tertidur, saya justru semakin terjaga. Kamu tau, keheningan dalam kebersamaan seperti ini seringkali mendamaikan perasaan.

Tak ada keharusan untuk memulai percakapan. Tak ada keharusan untuk membagi isi pikiran. Saya dan kamu hanya tahu kita sedang terlalu lelah berkawan dengan kesendirian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s