#1

Berhati-hatilah menggunakan mata. Acapkali, sebuah tatapan bisa jauh lebih merasuk jiwa raga ketimbang kata-kata. Tahun 2015, misalnya. Kala itu sebelum pementasan teater-sirkus tunggal asal Perancis di mulai, kita memutuskan untuk singgah sejenak. Menyantap makan malam di sebuah café yang aku lupa namanya, namun masih teringat jelas rasanya.

Sepiring spaghetti penuh saus yang terlalu manis dan jus yang luar biasa asamnya. Sungguh bukan perpaduan yang tepat untuk menuntaskan hobi kelaparanku kala itu. Sementara kamu, seperti biasa, tak memilih untuk makan apa-apa. Aku menyantap menu pesananku dengan sedikit tak berselera. Kamu diam dan memperhatikanku dengan seksama. Tak lama, aku berkata,

“Eh, gue nyeker ya…. pengen ngijek tanah.”

Kamu tertawa. Pasrah. Seperti ingin mengucap terserah dengan cara paling lembut.

“Kalo iket rambut punya, ga? Gerah nih.”

Tatapanmu sedikit berubah. Seraya mengambil ikat rambut dari pergelangan tanganmu, keningmu berkerut seperti hendak memberikan pertanyaan. Belum sempat kamu berbicara, aku kembali berceloteh,

“Gue bingung, deh.. orang kok bisa, sih, hidupnya jaim. Jadi diri sendiri aja repot apalagi jadi orang lain.”

Tiba-tiba kamu tertawa. Tidak bisa dibilang keras, meski sulit juga untuk mengatakan bahwa tawamu cukup pelan untuk membuat beberapa orang di ruangan ikut menoleh.

“Hushhh…. itu orang sampe ikutan nengok (kepalaku ikut serta celingak-celinguk). Eh, liat deh yang disebrang meja kita, konsekuensi baik apa, ya, yang lagi mereka perjuangkan ketika harus tetap bekerja di akhir pekan?”, ujarku sambil tetap menengok ke arah samping.

3.. 4.. 5.. detik tak ada jawaban. Merasa tidak diacuhkan, aku menoleh kembali ke arahmu ketika kutemukan matamu memandangku dengan sangat tegas dan jelas.

Deg!

Kini, aku yang diam. Tatapan itu… rangkuman antara ketakjuban, ketidakpercayaan, kekaguman, serta ketakutan sekaligus.

Mendadak sunyi.

Aku senantiasa salah tingkah. Berusaha menengahi waktu yang terlanjur berhenti dengan lamat-lamat membuka suara, “Eh, kenapa?”. Lalu, seperti biasa. Ketidakfasihanmu dalam memilih kata membuat senyummu hadir sebagai jawaban. Ga, ga… aku masih perlu menagihnya dengan bentuk lain. Aku menatap dan mendekat. Perlahan kamu menggumam, “Engga.. gapapa”. Sebelum akhirnya kamu tersipu malu.

Kamu tahu? aku tidak terlampau bodoh untuk dapat mengerti. Bahwa tidak apa-apa adalah justru apa-apa yang paling apa-apa. Akui saja. Setelah saat itu, detik itu, mata itu… 

….kita tidak akan (pernah) sama lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s